Part 1

Hari-hari terus berlalu, membuat aktivitasku semakin semangat. Aku Melody, namaku seperti sebuah melody lagu lagu yang diiringi irama yang sangat indah. Sebenarnya aku sangatlah beruntung saat ini berjalan tanpa merasakan kesedihan seperti hari sebelumnya. Tanpa sadar wajahku basah, aku pikir aku sedang menangis dan ternyata hujan telah turun.

Aku terus berlari tanpa lelah, mencari tempat untuk berteduh supaya seluruh tubuhku tidak kebasah. Di depan aku melihat sebuah Halte,yang bertepatan di depan Caffe yang selama ini aku hindarkan. Tanpa sadar aku lihat seorang laki-laki yang sedang membuat kopi yang begitu telaten. Aku perhatikan ternyata orang itu adalah lelaki yang pernah aku sukai.

Aku kaget siapa yang aku lihat saat ini, ternyata dia menyadari bahwa ia sedang aku perhatikan. Aku pikir ia tidak akan menyapaku, tebakkan ku salah besar dia menghampiriku sedangkan jantungku sudah tidak terkontrol lahi seperti apa.

” Kamu Melody kan? ” tanyanya yang penuh dengan selidik takutnya salah. Dia sambil mengajakku ke dalam Caffe

” Ah. . . yah kamu . . .u. .u ” jawabku dengan terbata-bata, aku sudah lupa siapa dia namanya. Padahal aku mengingat semua wajahnya kenapa dengan namanya saja aku lupa sih.

” Owhh. . . Aku Rama. Masa lupa sih”

Aku hanya ber oh oh ria karena aku sudah lupa dengan namanya. Aku pun tak tahu bahwa yang mempunyai Caffe yang bernama Melody’s itu punyanya. Aku masih bingung kenapa dia menamakan Caffenya itu Melody’s, aku ingin bertanya tapi karena gengsiku tinggi jadi kuurungkan pertanyaaku.

Hujanpun sudah berhenti, akhirnya aku bisa pergi dari Caffe dia yang saat ini aku menjadi tontonan parah pembelinya. Ada yang bertanya ” itu siapa ram” dan masih banyak lagi pertanya pegawai Caffe yang bertanya sama dia.

” Aku pulang ya Ram, udah redah hujannya ” Meskipun aku berbicaran seolah-olah santai tapi sebenarnya jantungku berdebar tiga kali lipat.

” Penuh Aku anter ” ajaknya untuk menawarkan ajakkannya.

” Tidak perlu Ram. Rumahku dari sini dekat. ” aku pun langsung berjalan dan berpamitan dengan pegawai-pegawainya. AKu pikir, aku tidak akan bertemu lagi dengannya dan ternyata ah susah aku untuk mengungkapkannya.

selanjutnya =>

Tunggu selanjutnya yaa….

avatar Tidak diketahui

Penulis:

Hidup itu sederhana bilang kamu menjalaninya dengan Ihklas.

Tinggalkan komentar